Salam
Rindu
Rindu
Mengapa
kamu diciptakan sebagai rasa
Yang
bahkan aku sendiri tak sanggup untuk menahannya
Rindu
Akankah
kamu akan kembali pulang?
Mengobati
rasa yang tidak akan pernah pudar ini?
Rindu
Kau
ajari aku keyakinan
Kau
ajari aku kemandirian
Kau
ajari aku tentang sebuah kepercayaan
Kau
ajari aku tentang siapkan diri menerima kepahitan
Rindu
Tidak
perlu sebuah pengandaian
Karena
itu tak akan kembali
Cukup
saat ini terkenang
Dan
berharap akan berkumpul nanti
Di
tempat yang abadi
Salam
untukmu wahai Rindu
Semoga
syair yang mengudara
Mendekatkan
yang tidak pernah jauh
Lendang
Nangka,
15 Desember 2016
***
Ada seorang sahabat yang mengatakan
tentang hari Ibunya. Aku pun merasakan demikian tetapi bukan tentang ibu.
Bagiku September itu adalah bulannya Bapak sedangkan bulan – bulan yang lain
adalah bulan untuk mengenang Bapak.
***
Sungguh picik orang – orang yang membuat
persepsi sendiri tentang kehilangan seseorang. Mungkin mereka belum pernah
merasakan yang namanya kehilangan itu sehingga perasaan tidak dipakai untuk berbicara.
Sungguh picik mereka yang melandaskan kehilangan seseorang untuk semakin
membuatnya dalam keterpurukan. Mungkin mereka belum merasakan kekosongan hingga
waktunya akan tiba.
Sungguh sangat – sangat picik mereka
yang tidak tahu rasanya perpisahan. Mungkin mereka harus merasakan dinginnya
tanah kuburan sehingga tersadar ternyata dunia hanya sebuah panggung kehidupan
sementara.
***
Persiapkan diri tentang arti perpisahan
ketika kita mengenal arti pertemuan di dunia ini. Sungguh, Allah SWT telah
mempersiapkan skenario yang terbaik dalam hidupmu.
Karena sejatinya sebuah perpisahan itu
tidak benar – benar berpisah di dunia ini. Semoga Allah perkenankan kita untuk
berjumpa dan berkumpul di surganya kelak bersama orang – orang yang kita
sayangi.
Tidak perlu kita meratapi, sebab islam
tidak mengajarkan itu. Yang perlu kita lakukan adalah meratapi diri sendiri.
Kamu melihatnya meninggalkanmu dalam keadaan yang sangat baik “didunia ini”
sekarang lihatlah dirimu, apakah kamu bisa sepertinya atau bahkan lebih baik
seperti didikannya?
Tuhan itu tidak tidur. Bila kamu sayang
maka sematkan kebaikan akhiratNya di setiap doamu seraya kamu sendiri banyak –
banyak memohon ampun padaNya. Sungguh tidak ada yang benar – benar namanya
perpisahan di dunia ini.
***
Mengenang seseorang yang sangat berjasa
dalam kehidupan. Yang mengajarkan kepada semua anak perempuannya untuk menutup
aurat dan mendalami agama dengan baik. Yang mengajarkan sebuah kemandirian.
Yang tidak ingin melihat mereka terlihat meneteskan air mata bahkan di akhir
hidupnya. Tidakkah kau sadari itu semua?
Salam untuk Rindu yang tidak akan pernah
pudar, Bapak. Kebaikanmu tidak hanya terasa oleh kami akan tetapi dari mereka
yang juga memiliki ruang kebaikan tentang apapun yang pernah kau perbuat. Kami
tahu itu. Dan semua terbukti.
Pesanmu akan terus kami kenang.
Nasehatmu yang begitu banyak di Ramadhan 1437H akan terus aku resapi. Terima
kasih atas semua kepercayaan yang telah diberikan bahkan sampai akhir pun kau
menitipkan orang yang paling sama – sama kita sayangi kepadaku. Sesuai pesanmu
hiduplah dengan caraNya, bukan dengan cara manusia kebanyakan.
“Sungguh, tidak ada yang perlu kau
tangisi dengan kepergianku terlebih dahulu. Yang harus kau tangisi itu dirimu!
Apakah bekal sudah cukup ketika gaung keberangkatan kita sudah digemakan oleh
Izrail?”
Cukuplah Allah. Cukuplah Allah. Cukuplah
Allah.
Salam untuk Rindu. Aku pun sedang
berusaha untuk persiapan yang terbaik. Semoga Allah SWT selalu meridhoi kita.
Sampai jumpa di JannahNya kelak.
Adelaide, 20 Juni 2017
![]() |
| Si Rindu bersama ketiga Cucunya (keponakan) |
| Cucu (ponakan) yang paling sulung |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar