Senin, 26 Juni 2017

Salam untuk si "Rindu"



Salam Rindu
Rindu
Mengapa kamu diciptakan sebagai rasa
Yang bahkan aku sendiri tak sanggup untuk menahannya

Rindu
Akankah kamu akan kembali pulang?
Mengobati rasa yang tidak akan pernah pudar ini?

Rindu
Kau ajari aku keyakinan
Kau ajari aku kemandirian
Kau ajari aku tentang sebuah kepercayaan
Kau ajari aku tentang siapkan diri menerima kepahitan

Rindu
Tidak perlu sebuah pengandaian
Karena itu tak akan kembali
Cukup saat ini terkenang
Dan berharap akan berkumpul nanti
Di tempat yang abadi

Salam untukmu wahai Rindu
Semoga syair yang mengudara
Mendekatkan yang tidak pernah jauh

Lendang Nangka, 15 Desember 2016

***

Ada seorang sahabat yang mengatakan tentang hari Ibunya. Aku pun merasakan demikian tetapi bukan tentang ibu. Bagiku September itu adalah bulannya Bapak sedangkan bulan – bulan yang lain adalah bulan untuk mengenang Bapak.

***
Sungguh picik orang – orang yang membuat persepsi sendiri tentang kehilangan seseorang. Mungkin mereka belum pernah merasakan yang namanya kehilangan itu sehingga perasaan tidak dipakai untuk berbicara. Sungguh picik mereka yang melandaskan kehilangan seseorang untuk semakin membuatnya dalam keterpurukan. Mungkin mereka belum merasakan kekosongan hingga waktunya akan tiba.

Sungguh sangat – sangat picik mereka yang tidak tahu rasanya perpisahan. Mungkin mereka harus merasakan dinginnya tanah kuburan sehingga tersadar ternyata dunia hanya sebuah panggung kehidupan sementara.

***
Persiapkan diri tentang arti perpisahan ketika kita mengenal arti pertemuan di dunia ini. Sungguh, Allah SWT telah mempersiapkan skenario yang terbaik dalam hidupmu.

Karena sejatinya sebuah perpisahan itu tidak benar – benar berpisah di dunia ini. Semoga Allah perkenankan kita untuk berjumpa dan berkumpul di surganya kelak bersama orang – orang yang kita sayangi.

Tidak perlu kita meratapi, sebab islam tidak mengajarkan itu. Yang perlu kita lakukan adalah meratapi diri sendiri. Kamu melihatnya meninggalkanmu dalam keadaan yang sangat baik “didunia ini” sekarang lihatlah dirimu, apakah kamu bisa sepertinya atau bahkan lebih baik seperti didikannya?

Tuhan itu tidak tidur. Bila kamu sayang maka sematkan kebaikan akhiratNya di setiap doamu seraya kamu sendiri banyak – banyak memohon ampun padaNya. Sungguh tidak ada yang benar – benar namanya perpisahan di dunia ini.

***
Mengenang seseorang yang sangat berjasa dalam kehidupan. Yang mengajarkan kepada semua anak perempuannya untuk menutup aurat dan mendalami agama dengan baik. Yang mengajarkan sebuah kemandirian. Yang tidak ingin melihat mereka terlihat meneteskan air mata bahkan di akhir hidupnya. Tidakkah kau sadari itu semua?

Salam untuk Rindu yang tidak akan pernah pudar, Bapak. Kebaikanmu tidak hanya terasa oleh kami akan tetapi dari mereka yang juga memiliki ruang kebaikan tentang apapun yang pernah kau perbuat. Kami tahu itu. Dan semua terbukti.

Pesanmu akan terus kami kenang. Nasehatmu yang begitu banyak di Ramadhan 1437H akan terus aku resapi. Terima kasih atas semua kepercayaan yang telah diberikan bahkan sampai akhir pun kau menitipkan orang yang paling sama – sama kita sayangi kepadaku. Sesuai pesanmu hiduplah dengan caraNya, bukan dengan cara manusia kebanyakan.

“Sungguh, tidak ada yang perlu kau tangisi dengan kepergianku terlebih dahulu. Yang harus kau tangisi itu dirimu! Apakah bekal sudah cukup ketika gaung keberangkatan kita sudah digemakan oleh Izrail?”
Cukuplah Allah. Cukuplah Allah. Cukuplah Allah.

Salam untuk Rindu. Aku pun sedang berusaha untuk persiapan yang terbaik. Semoga Allah SWT selalu meridhoi kita. Sampai jumpa di JannahNya kelak.

Adelaide, 20 Juni 2017

Si Rindu bersama ketiga Cucunya (keponakan)

Cucu (ponakan) yang paling sulung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Coming Soon #2

MaternityShoot #2 Menjadi seorang ibu itu memang tidak pernah main – main. Perlu pemikiran yang luas, perlu kelapangan hati dan ...