Dalam mencapai kesuksesan tidak ada yang namanya mudah. Soalnya ini kisah nyata kita. Bukan cerita Cinderella ataupun Aladin yang di bantu oleh Jin mereka. Memang ada yang bisa membantu kita melebihi semua yang ada di cerita - cerita. Dia adalah Allah SWT, Tuhan yang tiada hentinya memberikan kasih dan sayang kepada kita selama ini.
Oke petualangan kali ini kita akan bertolak ke tanjung Ringgit. Tepatnya di daerah kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB. Mau tahu kisah mengharukan yang penuh dengan jatuh bangun dan intrik di setiap perjalanan kami? Stay on here!.
Waktu ke tanjung Ringgit ini sebenarnya tidak di rencanakan. Awalnya kami ingin melihat tanjung Bloam yang gak kalah kerennya dengan tanjung Ringgit. Tapi kebetulan personil yang berjumlah Empat orang ini tidak ada yang tahu jalan kesana, akhirnya nyasarlah kami ke Tanjung Ringgit. Kami lupa bawa peta Dora sih. :p
Maret 2015 ini cukup mendebarkan lho. Karena besoknya saya harus terbang ke Kalimantan. Jadi hari ini harus bisa kesana, dengan modal muka memelas untuk mengajak mereka yang sedang tertidur dan shopping di tempat masing - masing, akhirnya berhasil. Thanks for my best Friend sejak SMA ini.
Waktu kesana kami diguyur hujan lebat nih, sama dengan ketika kita mencapai cita - cita mungkin yah. Pasti akan selalu ada rintangan kan? begitu pula dengan ini. Untuk mendapatkan sesuatu yang keren pasti membutuhkan perjuangan. Setahu saya kalau mau pemandangan yang exsotis, jalannya tidak mudah! But it's Ok! we still fly high to the Goals.
Sampai di jalan ke arah pantai Pink (Satu jalur dengan tanjung Bloam & Ringgit) kami di suguhkan dengan OverRoad yang woooWW BGT. Becek, berlumpur dan koloni manusia entah bersembunyi di mana waktu itu. Bukan hanya itu guys! Jalan tanah ini licin sekali, maklum tanah liat. Kami hanya berdo'a, kapan akses jalan ini mulus, semulus kulit yang tiap hari di lulur dengan pasir? *jangan pikirkan.
Akhirnya saya menyerah dengan jalan ini, dan memberikan kesempatan kepada my 'wanita pendekar' untuk jadi depan. hampir 5 km masuk tapi terasa sangat lama dengan jalanan yang berlenggak lenggok membawa tubuh ini menari di atas motor.
Karena tidak menemukan jalan ke Tanjung Bloam (bukan Villa nya ya). Akhirnya kami memutuskan jalan terus melewati gerbang pantai Pink dan lurus menuju ke Tanjung Ringgit dan meriam Jepang. Disini setidaknya penyambutan nya berbeda dari yang sebelumnya.
And then,, Tarrraaanggg ini dia Tanjung Ringgit
![]() | |
| photo by Lingga Azhar |
Sampai di sana kami disuguhkan dengan hamparan bukit - bukit yang menjorok angkuh ke lautan. Di sisi atas ada peninggalan bersejarang zaman dulu lho, yaitu Meriam Jepang. Jurang nya indah, kayak di photo dengan deburan ombak yang memecah karang di bawah kami (tidak disarankan untuk terjun ya! ). Selain itu bisanya kita tidak sendirian lho disana, ada beberapa pemancing, penggembala dan tentu kerbau-nya yang ikut meramaikan suasana. Gak bakalan nyesel dah kalau kesini!
Thanks for my pendekar Dini, Photografer keren Lingga dan sohibku yang paling sabar Ekal atas photo keren di atas. Walaupun butuh keberanian ekstra duduk di tepi tebing seperti itu untuk orang yang takut ketinggian seperti saya.
I love Lombok very Much
In The other Hand. Ini dia, perjalanan ke Tanjung Ringgit yang sungguh sangat tidak mudah waktu itu. Tapi karena keyakinan tekad dan semangat dari sahabat + diri sendiri membuat kami tetap fokus untuk sampai kesana (walaupun tidak ke tujuan semula, tapi ini gak kalah indah). Sama halnya dengan mimpi. Tidak ada mimpi yang tak indah kawan, hanya saja ya itu tadi. Kita perlu semangat juang yang tinggi untuk meraihnya. Yang terpenting jangan menyerah. Bila sebuah do'a tidak dikabulkan, mungkin Allah sedang menyediakan yang lebih indah dari pada itu.
Satu lagi, ketika balik ke rumah akhirnya kami terpleset di jalan tanah liat berlumpur. Yang mengenaskan waktu itu adalah saat jatuh ada bapak - bapak duduk di samping jalan. Bukannya menolong tapi malah menertawakan kami dan tidak ada niat sedikitpun untuk membantu dua cewek "cute" dari Hongkong ini. Teman yang lain jauh jaraknya dari kami, Tapi untunglah pendekar wanitaku ini luar biasa. Sekali angkat tanpa bantuan langsung bilang "Ayo jalan lagi". Tak lama kemudian dua orang di belakang kami jatuh juga, Bapak yang tadi responya sama. Kami berniat membantu, tapi kedua pria itu langsung bilang tak apa dan mencoba mengangkat motornya bersama - sama.
Mungkin itu sama dengan kesuksesan kita. Di saat kita sudah dipuncak kesuksesan jangan harap seratus persen orang akan senang melihat kita. Ada kalanya pasti ada sisi "down" kita yang membuat mereka tertawa berbahagia. Tapi itu jadikan lecutan untuk diri kita. Kalau kita bisa berdiri sendiri ataupun dengan bantuan orang yang kita percayai.
Ingatlah Note dari saya ini. "Tidak ada umur yang terlalu Tua/ Muda untuk mimpi yang besar" yang penting tetap semangat jangan pernah menyerah. Satu lagi jadikan do'a sebagai pengiring kita dalam meraih itu semua.
Sukses itu milik Siapa saja!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar