Kamis, 12 Oktober 2017

The Nyinyirer




Waaa alhamdulillah positif...

Tiba – tiba saja air mata ini ingin menetes melihat dua garis merah di test pack. Rasanya bahagia sekali melihatnya. Suami juga merasakan hal yang sama. Bahagia dengan sujud syukur yang langsung jatuh ke lantai.

Sebenarnya waktu itu lucu juga melihat bagaimana ekspresinya melihatku yang menangis sambil pura – pura sembunyikan wajah haha. Niatnya menenangkan dan mengatakan “mungkin belum diberikan kepercayaan oleh Allah sekarang, jadi ayo pantaskan diri agar bisa diberikan amanah” ucapnya waktu itu. Lucu. Dan yang jelas dia juga merasakan hal yang sama. Khawatir dan agak “stres” dengan pertanyaan “udah isi?” Padahal pernikahan kami masih dua bulan jalan tapi “the nyinyirer” ada di mana – mana dan berhasil meningkatkan hormon stres kami.

Yak, ini dia yang ingin saya bahas kali ini. Soal the nyinyirer. Kebanyakan kita (termasuk saya) lebih bisa menilai orang lain dibandingkan melihat diri sendiri. Nah, giliran diri yang disinggung langsung ingin mencak – mencak tidak jelas. Lucu. Iya. Tapi ia mungkin lupa juga untuk introspeksi diri.

Sama seperti cerita saya di atas bersama suami. Dua bulan pertama ‘belum isi’, ada saja the nyinyirer yang berbicara tidak jelas. Bilang saya sering keluar lha (padahal lagi quality time sama pak suami), saya begini begitu lha dan bahkan ada yang secara langsung bilang kalau saya menggunakan kb. Haha ingat ini jadi ingin ngakak guling – guling. Tapi saya tidak ingin memperdalam itu sekarang.

Coba bayangkan saya yang hanya dua bulan belum diberi amanah banyak sekali suara – suara kasat mata yang lebih membuat merinding. Kita lihat dengan teman – teman kita atau bahkan saudara kita lainnya yang belum dikaruniai momongan berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun bisa dibayangkan beban psikologis yang mereka terima?.

Bukannya menenangkan dan memberikan energi positif tapi malah mentransfer energi negatif miliknya (red: pikiran negatif).

Memang the nyinyirer ini banyak sekali populasinya di dunia kita, lebih – lebih di lingkungan (mungkin termasuk kita, -ingetin si penulis juga ya kalau begitu hehe). Dari mulai kalian yang mungkin sekarang masih duduk di bangku sekolah saja ya. Pasti ada pertanyaan negatif seperti “kapan kamu seperti si ini yang berprestasi?” Lanjut lagi saat lulus sekolah, “ah kamu pilih jurusan itu, mengapa tidak kuliah atau ambil jurusan ini saja sih” lanjut lagi ketika mau skripsi “kamu kapan wisudanya?” Lanjut lagi saat selesai kuliah “kamu kapan atau kerja di mana?” Lanjut lagi “kapan kamu nikah?” “kapan kamu punya anak?” “eh anak kamu kapan bisa merangkak/ berjalan/ bisa berbicara” dan akan semakin sakit lagi bila ditambahin dengan bubuhan “seperti si ini dan si itu”

Setiap kata di atas memiliki power menusuk jantung dan menghantam pikiran sehingga hormon stres bisa keluar bebas dan menekan psikologis yang bisa memberikan efek tidak baik terhadap fisik dan pisikis kita. So, ngerti maksudnya? Sebagai nyinyirer kita sudah secara tidak langsung mendzolimi mereka yang kita nyinyirin.

Sebaiknya kalimat seperti itu kita coba hindari bertanya, karena pertanyaan – pertanyaan itu memiliki level panas yang berbeda – beda tergantung kondisi orang tersebut. Lebih baik kita mendoakan yang terbaik untuk mereka, atau kalau mau membahas soal itu bisa sekalian diberikan solusi. Jangan hanya bisa menghakimi tapi hadirlah sebagai pemberi solusi atau penyemangat dalam hidup mereka.
Karena tentu tidak semua mereka juga ingin seperti itu, tapi memang Allah SWT memberikan cobaan seperti itu.

Kalau belum bisa lebih baik sebelum berkata demikian pikirkan bagaimana perasaan kita jika menjadi sepertinya. Jangan hanya mengikuti diri saja. Atau jangan hanya minta dimengerti tanpa mau mengerti orang lain, egois.

Untuk kita yang berhadapan dengan orang seperti itu saya sarankan jangan terlalu didengarkan yah. Karena semakin hormon stres itu meninggi justru semakin menekan kondisi tubuh kita. Lebih baik munculkan hormon bahagia dalam tubuh dengan memikirkan hal – hal yang positif saja sehingga membuat tubuh juga mendukung kesehatan dan kita bisa fokus dengan harapan yang dimiliki.

Begitulah kehidupan tapi kita juga harus sama – sama bisa menempatkan diri. Jangan takut bertanya bila ada yang kurang dipahami. Jangan dengarkan ucapan – ucapan yang tidak baik dari orang – orang yang ingin melemahkan kita. 

Ingat, setiap kita di uji dan diminta pertanggung jawabannya masing – masing. Kita memang memiliki kewajiban untuk mengingatkan saudara kita bila berbuat salah, akan tetapi dengan cara yang baik. Selebihnya kita fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Coming Soon #2

MaternityShoot #2 Menjadi seorang ibu itu memang tidak pernah main – main. Perlu pemikiran yang luas, perlu kelapangan hati dan ...