Waaa alhamdulillah positif...
Tiba – tiba saja air mata ini ingin
menetes melihat dua garis merah di test pack. Rasanya bahagia sekali
melihatnya. Suami juga merasakan hal yang sama. Bahagia dengan sujud syukur
yang langsung jatuh ke lantai.
Sebenarnya waktu itu lucu juga melihat
bagaimana ekspresinya melihatku yang menangis sambil pura – pura sembunyikan
wajah haha. Niatnya menenangkan dan mengatakan “mungkin belum diberikan
kepercayaan oleh Allah sekarang, jadi ayo pantaskan diri agar bisa diberikan
amanah” ucapnya waktu itu. Lucu. Dan yang jelas dia juga merasakan hal yang
sama. Khawatir dan agak “stres” dengan pertanyaan “udah isi?” Padahal
pernikahan kami masih dua bulan jalan tapi “the nyinyirer” ada di mana – mana
dan berhasil meningkatkan hormon stres kami.
Yak, ini dia yang ingin saya bahas kali
ini. Soal the nyinyirer. Kebanyakan kita (termasuk saya) lebih bisa menilai
orang lain dibandingkan melihat diri sendiri. Nah, giliran diri yang disinggung
langsung ingin mencak – mencak tidak jelas. Lucu. Iya. Tapi ia mungkin lupa
juga untuk introspeksi diri.
Sama seperti cerita saya di atas bersama
suami. Dua bulan pertama ‘belum isi’, ada saja the nyinyirer yang berbicara
tidak jelas. Bilang saya sering keluar lha (padahal lagi quality time sama pak
suami), saya begini begitu lha dan bahkan ada yang secara langsung bilang kalau
saya menggunakan kb. Haha ingat ini jadi ingin ngakak guling – guling. Tapi
saya tidak ingin memperdalam itu sekarang.
Coba bayangkan saya yang hanya dua bulan
belum diberi amanah banyak sekali suara – suara kasat mata yang lebih membuat
merinding. Kita lihat dengan teman – teman kita atau bahkan saudara kita
lainnya yang belum dikaruniai momongan berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun
bisa dibayangkan beban psikologis yang mereka terima?.
Bukannya menenangkan dan memberikan
energi positif tapi malah mentransfer energi negatif miliknya (red: pikiran
negatif).
Memang the nyinyirer ini banyak sekali
populasinya di dunia kita, lebih – lebih di lingkungan (mungkin termasuk kita,
-ingetin si penulis juga ya kalau begitu hehe). Dari mulai kalian yang mungkin
sekarang masih duduk di bangku sekolah saja ya. Pasti ada pertanyaan negatif
seperti “kapan kamu seperti si ini yang berprestasi?” Lanjut lagi saat lulus
sekolah, “ah kamu pilih jurusan itu, mengapa tidak kuliah atau ambil jurusan
ini saja sih” lanjut lagi ketika mau skripsi “kamu kapan wisudanya?” Lanjut
lagi saat selesai kuliah “kamu kapan atau kerja di mana?” Lanjut lagi “kapan
kamu nikah?” “kapan kamu punya anak?” “eh anak kamu kapan bisa merangkak/
berjalan/ bisa berbicara” dan akan semakin sakit lagi bila ditambahin dengan
bubuhan “seperti si ini dan si itu”
Setiap kata di atas memiliki power
menusuk jantung dan menghantam pikiran sehingga hormon stres bisa keluar bebas
dan menekan psikologis yang bisa memberikan efek tidak baik terhadap fisik dan
pisikis kita. So, ngerti maksudnya? Sebagai nyinyirer kita sudah secara tidak
langsung mendzolimi mereka yang kita nyinyirin.
Sebaiknya kalimat seperti itu kita coba
hindari bertanya, karena pertanyaan – pertanyaan itu memiliki level panas yang
berbeda – beda tergantung kondisi orang tersebut. Lebih baik kita mendoakan
yang terbaik untuk mereka, atau kalau mau membahas soal itu bisa sekalian
diberikan solusi. Jangan hanya bisa menghakimi tapi hadirlah sebagai pemberi
solusi atau penyemangat dalam hidup mereka.
Karena tentu tidak semua mereka juga ingin
seperti itu, tapi memang Allah SWT memberikan cobaan seperti itu.
Kalau belum bisa lebih baik sebelum
berkata demikian pikirkan bagaimana perasaan kita jika menjadi sepertinya.
Jangan hanya mengikuti diri saja. Atau jangan hanya minta dimengerti tanpa mau
mengerti orang lain, egois.
Untuk kita yang berhadapan dengan orang
seperti itu saya sarankan jangan terlalu didengarkan yah. Karena semakin hormon stres itu meninggi justru semakin
menekan kondisi tubuh kita. Lebih baik munculkan hormon bahagia dalam tubuh
dengan memikirkan hal – hal yang positif saja sehingga membuat tubuh juga
mendukung kesehatan dan kita bisa fokus dengan harapan yang dimiliki.
Begitulah kehidupan tapi kita juga harus
sama – sama bisa menempatkan diri. Jangan takut bertanya bila ada yang kurang
dipahami. Jangan dengarkan ucapan – ucapan yang tidak baik dari orang – orang
yang ingin melemahkan kita.
Ingat, setiap kita di uji dan diminta
pertanggung jawabannya masing – masing. Kita memang memiliki kewajiban untuk
mengingatkan saudara kita bila berbuat salah, akan tetapi dengan cara yang
baik. Selebihnya kita fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar