Minggu, 15 Oktober 2017

Petualangan Bersama Kang-Ga-Roo



Grey Kangaroo
Petualangan kali ini mengunjungi si Kang-Ga-Roo, eh ini bukan orang korea ya, tapi merupakan salah satu mahluk hidup yang mendiami negara tetangga kita, Australia.

Ke Australia, kayaknya tak lengkap kalau belum bertemu dengan Kangguru. Yah hewan yang satu ini memang menjadi salah satu ikonnya Australia.

Di samping cara berjalannya yang unik dengan melompat, ia juga memiliki kantung di depan perutnya sebagai tempat untuk baby Kanguru berlindung dan menghangatkan diri (tempat tinggal si Bayi sampai bisa mandiri hehe).

Dulu ingat waktu kecil pernah membaca tentang Kanguru di majalah Bobo (majalah anak – anak yang punya nih). Kata kangguru sendiri berasal dari bahasa Aborigin yaitu Kang-Ga-Roo yang artinya saya tidak tahu/ mengerti.

Nah waktu itu ada pendatang yang ke Australia dan menanyakan nama dari hewan yang unik dan melompat lompat tersebut pada orang suku asli Australia (Aborigin), dan di jawab Kang-Ga-Roo yang artinya saya tidak tahu/ mengerti. Tapi pendatang tersebut justru berpikir itulah nama si hewan tersebut dan pada akhirnya terekamlah nama hewan tersebut menjadi Kanguru (red.Indonesia).

Kali ini, saya dan suami beserta baby yang ada di perut berkesempatan mengunjungi salah satu wildlife park di South Australia. Namanya Cleland. Di sini kita tidak hanya menemukan Kanguru saja akan tetapi bisa melihat Koala, Wallaby, snake, ada burung besar yang mirip dengan Kaswari dan lain sebagainya.

Oya, perjalanan kali ini kami menggunakan Bus umum dari city Adelaide. Dan ternyata tidak hanya kami yang berkunjung kesana, ada lima orang lagi. Dua dari Spain, dua dari China dan satu lagi dari Ukraina

Beruntungnya kami hari itu, pak sopirnya sangat ramah. Ketika sampai di Mount Lofty Summit kami di ajak keluar dan menikmati kota Adelaide di sana serta bersedia memotret kami. Persis seperti tour guide gratis.

Kemudian kami kembali diajak ke tujuan awal. Dan akhirnya bertemu dengan si Kangguru.

Unik dan ada rasa khawatir juga dengan Kangguru ketika ingin memberinya makan, ada yang mau makan dan ada yang justru menjauh haha. Mungkin karena ketakutan melihat saya yah.. hehe.

Unik dan lucu rasanya ketika si Kanguru mau makan dari tangan saya. Kekhawatiran saya untuk ditendang tiba – tiba sirna hehe.

Sayangnya, karena cuaca tidak cerah, kami tidak bisa berfoto close up dengan koala. Mereka (para penjaga) benar – benar menjaga agar koala merasa aman dan nyaman.

Hari itu kami bertemu dengan banyak anak kecil yang di ajak tour. Enam orang anak dengan dua penjaga. Uniknya mereka mengajak anak – anak tersebut berkeliling dengan pengasuhan yang “unik” pula bagi saya.

Karakter mereka seakan terbentuk sedari dini untuk berpikir mandiri dan kritis. Penjaga  yang bersama mereka pun mendorongnya untuk begitu.

Ada salah satu komunikasi yang lucu kami dengar ketika berpapasan dengan mereka. Yaitu pada saat melihat penunjuk jalan di simpang tiga. Ada tiga panah, ke kanan kiri dan atas (yang artinya lurus). Ketika si penjaga menanyakan kepada mereka ingin kemana. Kompak keenam anak tersebut mengatakan “Up” yang artinya ke atas. Hehe

Sang penjaga menjelaskan kalau itu artinya lurus bukan ke atas. Akan tetapi salah satu anak tetap kekeuh ingin ke atas untuk melihat Kanguru. Si penjaga dengan sabar menerangkan kepada si anak tentang arti petunjuk jalan di simpang tersebut. Pengasuh tetap tidak memutuskan untuk mengambil arah yang mana. Anak – anak itu dibiarkan memilih sendiri arah yang mau dituju. Kebetulan saja pada saat itu mereka memilih jalan lurus (not “up” but forward hehe).

Saya dan suami tertawa kecil ketika mendengarnya, dan juga kagum dengan pola pengasuhan dan gaya komunikasi yang diberikan kepada mereka. Semoga kami bisa memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak – anak kami kelak. Aamiin.

Ketika balik dari sana, kami kembali melalui rute yang sama dengan banyak sekali pekerjaan rumah yang harus kami kembangkan dan bangun bersama. Thanks to Allah and my Lovely Husband untuk kesempatan ini. Love you to the moon and back.

with Grey & Red Kangaroo

Sabtu, 14 Oktober 2017

Welcome Spring!!


Taken by My Lovely Husband


Happy 36 weeks dan selamat datang di Canola field dan Lyndoch, Lavender Farm and Cafe.


Ini merupakan salah satu destinasi spring yang cukup menarik di Adelaide, Australia Selatan.

Selain dengan Canola Fieldnya yang cukup menawan. Lyndoch merupakan salah satu tempat yang harus di kunjungi ketika spring mulai tiba.

Canola merupakan salah satu tumbuhan yang bisa diolah menjadi minyak sayur. Jadi untuk kamu muslim yang berada di Australia, pasti lebih sering menggunakannya ketika masak karena “sesuai” dengan vegetarian.

Tapi sebelum di panen, Canola juga menjadi tempat yang cukup indah untuk didatangi, kenapa? Karena kamu bisa menikmati keindahan berhektar – hektar bunga menguning yang cukup memanjakan mata.

Selain itu, jangan lupa juga untuk mengunjungi kebun Lavender. Di sini kamu tidak hanya mendapati kebun bunga yang indah dan di dominasi oleh lavendernya saja, akan tetapi kamu bisa menikmati beberapa olahan makanan dan minuman dari lavender dan beberapa “perkakas” dari bunga – bunga terutama lavender juga (hehe).

Kali ini perjalanan kami tanpa rencana, karena kami tahu akan ke sana satu jam sebelum berangkat dengan rombongan. Cukup asyik dan menyenangkan. Perjalanan kami tempuh kurang lebih satu jam dari kota Adelaide.

Oya di dekat sini ada juga tempat penyewaan helikopter untuk yang mau merasakan bagaimana sensasi terbang menggunakannya.

Di Lyndoch Lavender farm dan Cafe kami memesan Lavender Ice Cream, karena tertarik dengan ucapan salah seorang teman yang mengatakan rasanya seperti obat nyamuk. Akan tetapi mungkin tergantung selera masing – masing juga ya. Aromanya memang seperti aroma lotion obat nyamuk tapi soal rasa agak seperti jahe. Jujur saja kalau saya cukup menyukainya. Kemudian tak lupa juga kami memesan Lavender Hot Chocolate.

Sebagai pencinta coklat sepertinya ada sesuatu yang kurang saja jika kami tidak memesan minuman yang satu ini.

Saat kesini, kehamilan saya masuk usia 36 weeks, atau 9 bulan. Bertandang ke kebun Lavender sedikit memberikan efek terapi untuk kami yang sibuk di kota (ciyeehh, sibuk apa nih? hihi).

Kali ini kami menikmati kebun Lavender di Australia dulu, mungkin nanti kami bisa menikamti kebun Lavender  yang katanya berhektar – hektar di benua lain di belahan bumi sana (Aamiin)! Yes, Someday, We will be there! 💗

Setiap tempat memiliki keindahan tersendiri, setiap orang memiliki karakternya masing – masing. Semua kembali kepada kita lagi, bagaimana cara menikmati semua agar terasa menyenangkan. Dan ingatlah untuk tetap berbahagia 😉

Taken by Mbak Monita & Fam

Kamis, 12 Oktober 2017

The Nyinyirer




Waaa alhamdulillah positif...

Tiba – tiba saja air mata ini ingin menetes melihat dua garis merah di test pack. Rasanya bahagia sekali melihatnya. Suami juga merasakan hal yang sama. Bahagia dengan sujud syukur yang langsung jatuh ke lantai.

Sebenarnya waktu itu lucu juga melihat bagaimana ekspresinya melihatku yang menangis sambil pura – pura sembunyikan wajah haha. Niatnya menenangkan dan mengatakan “mungkin belum diberikan kepercayaan oleh Allah sekarang, jadi ayo pantaskan diri agar bisa diberikan amanah” ucapnya waktu itu. Lucu. Dan yang jelas dia juga merasakan hal yang sama. Khawatir dan agak “stres” dengan pertanyaan “udah isi?” Padahal pernikahan kami masih dua bulan jalan tapi “the nyinyirer” ada di mana – mana dan berhasil meningkatkan hormon stres kami.

Yak, ini dia yang ingin saya bahas kali ini. Soal the nyinyirer. Kebanyakan kita (termasuk saya) lebih bisa menilai orang lain dibandingkan melihat diri sendiri. Nah, giliran diri yang disinggung langsung ingin mencak – mencak tidak jelas. Lucu. Iya. Tapi ia mungkin lupa juga untuk introspeksi diri.

Sama seperti cerita saya di atas bersama suami. Dua bulan pertama ‘belum isi’, ada saja the nyinyirer yang berbicara tidak jelas. Bilang saya sering keluar lha (padahal lagi quality time sama pak suami), saya begini begitu lha dan bahkan ada yang secara langsung bilang kalau saya menggunakan kb. Haha ingat ini jadi ingin ngakak guling – guling. Tapi saya tidak ingin memperdalam itu sekarang.

Coba bayangkan saya yang hanya dua bulan belum diberi amanah banyak sekali suara – suara kasat mata yang lebih membuat merinding. Kita lihat dengan teman – teman kita atau bahkan saudara kita lainnya yang belum dikaruniai momongan berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun bisa dibayangkan beban psikologis yang mereka terima?.

Bukannya menenangkan dan memberikan energi positif tapi malah mentransfer energi negatif miliknya (red: pikiran negatif).

Memang the nyinyirer ini banyak sekali populasinya di dunia kita, lebih – lebih di lingkungan (mungkin termasuk kita, -ingetin si penulis juga ya kalau begitu hehe). Dari mulai kalian yang mungkin sekarang masih duduk di bangku sekolah saja ya. Pasti ada pertanyaan negatif seperti “kapan kamu seperti si ini yang berprestasi?” Lanjut lagi saat lulus sekolah, “ah kamu pilih jurusan itu, mengapa tidak kuliah atau ambil jurusan ini saja sih” lanjut lagi ketika mau skripsi “kamu kapan wisudanya?” Lanjut lagi saat selesai kuliah “kamu kapan atau kerja di mana?” Lanjut lagi “kapan kamu nikah?” “kapan kamu punya anak?” “eh anak kamu kapan bisa merangkak/ berjalan/ bisa berbicara” dan akan semakin sakit lagi bila ditambahin dengan bubuhan “seperti si ini dan si itu”

Setiap kata di atas memiliki power menusuk jantung dan menghantam pikiran sehingga hormon stres bisa keluar bebas dan menekan psikologis yang bisa memberikan efek tidak baik terhadap fisik dan pisikis kita. So, ngerti maksudnya? Sebagai nyinyirer kita sudah secara tidak langsung mendzolimi mereka yang kita nyinyirin.

Sebaiknya kalimat seperti itu kita coba hindari bertanya, karena pertanyaan – pertanyaan itu memiliki level panas yang berbeda – beda tergantung kondisi orang tersebut. Lebih baik kita mendoakan yang terbaik untuk mereka, atau kalau mau membahas soal itu bisa sekalian diberikan solusi. Jangan hanya bisa menghakimi tapi hadirlah sebagai pemberi solusi atau penyemangat dalam hidup mereka.
Karena tentu tidak semua mereka juga ingin seperti itu, tapi memang Allah SWT memberikan cobaan seperti itu.

Kalau belum bisa lebih baik sebelum berkata demikian pikirkan bagaimana perasaan kita jika menjadi sepertinya. Jangan hanya mengikuti diri saja. Atau jangan hanya minta dimengerti tanpa mau mengerti orang lain, egois.

Untuk kita yang berhadapan dengan orang seperti itu saya sarankan jangan terlalu didengarkan yah. Karena semakin hormon stres itu meninggi justru semakin menekan kondisi tubuh kita. Lebih baik munculkan hormon bahagia dalam tubuh dengan memikirkan hal – hal yang positif saja sehingga membuat tubuh juga mendukung kesehatan dan kita bisa fokus dengan harapan yang dimiliki.

Begitulah kehidupan tapi kita juga harus sama – sama bisa menempatkan diri. Jangan takut bertanya bila ada yang kurang dipahami. Jangan dengarkan ucapan – ucapan yang tidak baik dari orang – orang yang ingin melemahkan kita. 

Ingat, setiap kita di uji dan diminta pertanggung jawabannya masing – masing. Kita memang memiliki kewajiban untuk mengingatkan saudara kita bila berbuat salah, akan tetapi dengan cara yang baik. Selebihnya kita fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.

Kamis, 05 Oktober 2017

Hi There! We are fine here



Hi There! Here is qoute of the day from Ariawan family.😍

“Kalau kita tidak menyibukkan diri dalam kebaikan, niscaya kita akan disibukkan dalam keburukan” – Bilal Bin Sa’ad.

Oke kali ini sedikit menyinggung tentang sibuk menyibukkan. Siapa dari kita yang suka “Disibuki” (read: digosipkan) orang lain? Terlebih itu tentang sesuatu yang negatif? Ada? Berarti anda luar biasa. Kenapa demikian? Karena anda bisa mengatur emosi dalam diri. Tapi kebanyakan kita tentu akan merasa terganggu dengan hal tersebut.

Ngomong ini itu tanpa kejelasan, menyibukkan diri bercerita dan meyakinkan orang lain kalau kita begini begitu bahkan kita ngomonin mereka (Padahal mereka yang lagi bergunjing ria yah #eh). Dan parahnya lagi orang ketiga tersebut tidak langsung klarifikasi ke yang bersangkutan sehingga su’udzhon yang timbul dan merasa diri terzdolimi (Kalau kata Bondan #YaSudahlah).

Lucu bukan? Tapi mau bagaimana lagi seperti itulah kehidupan. Kebanyakan terlalu sibuk dengan urusan orang lain sehingga lupa untuk fokus meningkatkan kapasitas diri. Yah, seperti yang disampaikan dalam kutipan Bilal di atas. Karena tidak memiliki kesibukan sendiri sehingga sibuk dengan keburukan (sibuk dengan orang lain).

Padahal kemampuan untuk berbicara atau orasi di publik seperti di atas masih sangat jarang dan dibutuhkan di masyarakat lho. Tapi salahnya justru kita mengasah diri untuk fokus melakukan playing victim yang bukannya menambah kebaikan tapi justru menumpuk dosa yang sudah bertumpuk.

Hati – hati dengan orang yang demikian karena bisa jadi kita akan menjadi korban selanjutnya dari mereka. Dan ada baiknya ketika kita menemukan informasi dari orang (walaupun nih orang dikatakan lebih dekat dengan kita) tetap langsung klarifikasi kepada orang yang dimaksud pelaku utama yah (walaupun tidak dekat sekalipun), mungkin ada miss komunikasi atau hal lainnya yang sebenarnya baik.

Jangan mau jadi bonekanya tukang gosip yang mau dimainkan dengan isu penggorengan yang sudah dipakai berkali – kali sehingga tidak sehat untuk jiwa dan raga hehe.

Karena itu, mulai sekarang tanamkan dalam diri ketika menerima informasi yang “aneh” lebih baik langsung di klarifikasi. Karena selain nambah dosa hal tersebut juga secara tidak langsung menambah stress dalam diri yang tidak baik untuk kesehatan. hehe

Cerdas – cerdas dalam menanggapi dan menyibukkan diri ya. Untuk yang masih sekolah atau kuliah, jangan keseringan nonton sinetron yang kurang mendidik. Yang jahatnya kebangetan, sehingga percaya kalau si ini antagonis dan kita protagonisnya (padahal kebalik gara – gara pikiran negatif tadi dalam realitanya hehe).

Untuk yang sudah menikah, lebih baik fokus untuk membentuk keluarga impian dunia akhiratnya dan ditambahkan lagi dengan pikiran – pikiran positif untuk menebarkan manfaat pada sesama.

Saya dan suami banyak belajar tentang hal tersebut, karena itu kami membuat komitmen untuk sama – sama menyibukkan diri dengan keluarga kecil kami yang masih seumur jagung ini. Jadi, kalau ada yang tiba – tiba merasa dirinya kami “dzolimi” atau kasarnya kami gosipkan di belakang. Mohon maaf ya, beberapa bulan terakhir ini suami sibuk dengan disertasinya (Kalau di kampus suami, untuk tugas akhir S2 disebut Disertasi dan S3 Thesis) dan saya sibuk dengan pemberian nutrisi lahir dan batin buat baby yang sebentar lagi inshaAllah akan meletus hehe. Believe it, we are fine here.

Oke kesimpulannya hanya orang – orang yang tidak punya kesibukkan dan hidupnya banyak mengeluh yang lebih senang mengurus  urusan orang lain! Cari solusi bukan pembenaran ya!

*kita masih sama – sama belajar untuk berbenah untuk menjadi lebih baik lagi
Somewhere in Australia

Rabu, 04 Oktober 2017

Melbourne #2




Oke kali ini akan kami bahas mengenai penginapan di Melbourne. Setelah sampai di Flinders Street Railway Station, kami mencari penginapan (kebetulan suami sudah mencari yang cukup murah). Kami menggunakan aplikasi RnB. 

Untuk aplikasi ini, kita bisa menemukan harga kamar dari yang paling murah sampai mahal. Dari yang private room sampai dengan studio (satu ruang bersama banyak orang) dengan fasilitas dapur juga.

Beruntungnya kami bisa dapat apartement murah, yang ternyata dekat dengan Federation square (Bus, tram dan kereta station dekat). Dan lagi, yang punya adalah seorang Muslim yang besar di German (orang tuanya asli timur tengah). Dia sangat baik dan mempersilakan kami memakan makanannya yang ada di kulkas hehe (*dijamin halal yah).

Kemudian, mulailah kami sedikit menjelajah Melbourne. Tujuan utama kami adalah Mount Buller untuk melihat snow, kami menggunakan Bus yang sudah kami pesan di website Mount Buller langsung. Kebetulan busnya mengangkut dan menurunkan penumpang di belakang Federation Square juga.

Kemudian tak lupa mengunjungi pantai Brighton, University of Melbourne, State library, Museum dan Royal exhibition building, dan yang paling utama adalah Badiuzzaman Mosque. Selain itu kami juga mengunjungi Shrine of Membrance, kemudian Eureka (Tallest Building in Australia), Yarra river dan akhirnya balik lagi ke federation square.

Perjalanan itu selalu menyisakan banyak cerita yang menarik. Pintar – pintar kita dalam menjalaninya. Dan lagi – lagi saya menyarankan agar menjalaninya dengan orang yang tepat 😊

Coming Soon #2

MaternityShoot #2 Menjadi seorang ibu itu memang tidak pernah main – main. Perlu pemikiran yang luas, perlu kelapangan hati dan ...